Kekuatan Sebuah Do’a

Tak ada yang tak mungkin dengan do’a

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” Al- Mu’min: 60

Doa’ merupakan wujud kebutuhan seorang mu’min akan Tuhannya. Ia sangat bergantung pada Tuhan-Nya dalam hal sekecil apapun. Setiap saat yang ia panjatkan adalah do’a kepada Tuhan-Nya, tak hanya pada saat mendapakan musibah, tapi juga pada saat mendapatkan kesenangan.

Nabi Zakariyya diberikan kesempatan untuk mengasuh Maryam putra keluarga Imran. Maryam yang suci ini selalu beribadah di mihrabnya, dan pada saat Zakariyya mengunjungi Maryam, terdapat hidangan yang tersedia untuk Maryam. Nabi Zakariyya pun heran dan bertanya-tanya dari manakah makanan itu berasal. Maryam menjelaskan bahwa makanan itu dari Allah. Zakariyya sangat takjub kepadanya dan ingin memiliki anak sesholeh Maryam.Di usianya yang sudah sangat tua, dengan rambut yang sudah dipenuhi uban, tulang yang sudah melemah, tambahan lagi istrinya mandul, mana mungkin ia bisa memiliki anak. Secara teori, ia dan isterinya sudah tidak produktif lagi untuk menghasilkan anak. Tapi, karena tekadnya yang begitu kuat untuk memiliki anak dengan tujuan supaya anaknya tersebut dapat meneruskan risalah dakwahnya dan menjadi pewaris harta bendanya, Zakariyya berdo’a kepada Allah dengan suara yang lembut dan menyatakan bahwa selama ini ia tidak pernah kecewa dalam berdo’a kepada Tuhannya.

yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” Maryam: 3-6

Karena kesungguhan Zakariyya berdo’a dan pengharapan yang sangat kepada Allah, maka Allah mengabulkan do’anya dengan memberikannya putera bernama Yahya.

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Maryam: 7

Walaupun Zakariyya sangat girang mendengarnya, namun ia masih belum yakin dengan kondisi dirinya dan isterinya sekarang ini, bagaimana mungkin ia bisa memiliki anak?

Tuhan berfirman: “Demikianlah.” Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” Maryam: 9

Maka, untuk lebih memantapkan hatinya ia meminta untuk diberikan pertanda jika ternyata hal itu benar.

Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” Maryam: 10

Demikian juga dengan Musa yang sedang dikejar-kejar oleh tentara Firaun karena telah membunuh orang Qibti, sepanjang perjalanan ia terus berdoa:

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan tatkala ia menghadap ke negeri Madyan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” Al-Qashash: 21-22

Ternyata memang terbuki ia sampai ke negeri Madyan lalu bertemu dengan Nabi Syu’aib dan dinikahkan dengan puterinya. Setelah itu ia memperoleh wahyu.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang membuktikan betapa jika do’a tersebut dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dan penuh harap, maka Allah akan mengabukan. Kecuali do’a yang memang tidak diperbolehkan oleh Allah, misalkan do’a Nabi Ibrahim agar menyelamatkan dan mengampuni dosa ayahnya yang seorang peyembah berhala. Allah melarang kita memohonkan ampun siapapun walaupun ia keluarga kita jika ia musyrik.

Tata cara berdoanya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah:

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Al-A’raf: 55

Kalau merasa sudah tidak mungkin, sudah putus asa, bingung mau gimana lagi, berdo’alah…

Yang dilihat adalah HATI

Betapa Maha Adil-Nya sang Kuasa karena hanya melihat seseorang dari hatinya.

Hati…

Segalanya bermula dari sana. Jika ini tak bermakna, maka semuanya bernilai nol.

Misalkan tentang amal

Innamal a’maalu bin niyyat, wainnamaa likullin riin maa nawaa. Sesungguhnya amal bergantung pada niat, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang ia niatkan.

Sebesar apapun amalan kita, tapi jika niatnya hanya ingin dilihat oleh orang lain, dipuji, (riya atau pamer diri) maka semua itu tak ada nilainya di mata Allah.

Namun betapa banyak pula amalan kecil yang menjadi besar karena disertai niat yang lurus dan bersih, ikhlas karena mencari ridlo Allah semata.

Allah lebih menyukai orang yang sholat sunnah di rumah, daripada di masjid karena khawatir timbul rasa riya jika melakukan sholat sunnah di masjid. Allah memberikan naungan kepada orang yang meneteskan air mata di tempat yang sepi karena takut kepada Allah. Hanya merasa ada dia dengan Allah dan terhindar dari pandangan manusia lain.

Ada sebuah hadist: (ini tidak sesuai redaksi yang sebenarnya) hanya menceritakan kembali bahwa ada manusia yang sudah bersusah payah menghafalkan dan mengajarkan Al-Quran, tapi amalannya tidak diterima karena ia berniat hanya ingin disebut sebagai ahli Quran di mata manusia. Ada pula yang sudah mengorbankan nyawanya berjihad di jalan Allah, bertempur habis-habisan, tapi nasibnya sama dengan orang pertama, dijungkirkan ke dalam neraka karena ia ingin disebut sebagap pahlawan. Amalan2 tersebut jelas jika dilihat oleh manusia, merupakan amalan yang besar dan sulit dilakukan. Tapi sekali lagi Allah tidak hanya melihat penampakkan dari luar, Dia Melihat maksud terdalam dari hamba-Nya yang melakukan amal.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu, tapi Dia Melihat hatimu”

Mungkin banyak di antara kita yang merasa telah banyak melakukan amalan besar, merasa sholeh, alim, tapi mari introspeksi diri kita kembali, apakah hati ini sudah benar-benar lurus, melakukan semuanya hanya untuk Allah, tidak ingin dilihat oleh siapapun, tidak ingin dipuji oleh siapapun.

Sesungguhnya tanda-tanda kemunafikan jika seseorang menyukai pujian apa yang tidak ada pada dirinya.

Membersihkan hati lebih sulit dari membersihkan hal-hal yang lain, karena mungkin kita terbebas dari satu macam penyakit hati, namun masih ada lagi penyakit hati yang lain yang mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah penyakit hati.

kecenderungan rasa pria-wanita memang fitrah, tapi….

Saya merasa sangat miris setiap kali melihat tayangan televisi. Ya, sekali-kali lihat infotainment, belum sampai 15 menit juga udah merinding, ya Allah ketinggalan zaman amat ane, ga tau udah sampai separah itu perbuatan-perbuatan mengagung-agungkan seks. Seolah-olah seks adalah segala-galanya. Seks benar-benar dieskploitasi. Tak usah dihitung lagi berapa banyak tayangan yang benar-benar menampilkan kelakuan-kelakuan binatang itu. Apa saja dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Padahal tak ada dosa yang ringan hukumannya di mata Allah.
Objek utama dalam hal ini adalah tentu saja kaum wanita. Begitu banyak artis yang melenggak lenggok, menari-nari, sambil mempertunjukkan aurat yang kadang benar-benar terbuka untuk “menghibur” penggemarnya. Ya menghibur mereka yang sedang kehausan. Saya sebagai seorang wanita pun merasa sangat malu melihatnya. Bagaimana dengan kaum laki-laki?
Dalam hal ini saya merasa iba dan kasihan terhadap kaum laki-laki yang banyak diterpa cobaan dengan hal semacam ini. Memang benar hadist Rasulullah yang berbunyi: Tiada aku tinggalkan suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari fitnah perempuan.
Meskipun hal ini relatif. Diujinya sesuai dengan keadaan orang tersebut, maksudnya:
==> laki-laki yang masih belum kaaffah keislamannya,yang masih suka main di mall, yang jarang ke masjid, biasanya tertariknya terhadap wanita yang setipe juga
==> laki-laki yang udah ngaji (biasanya disebut ikhwan), yang sering main ke masjid, yang aktif di organisasi2 dakwah, tertariknya dan diujinya sama wanita yang udah ngaji juga (akhwat), yang setipe, dan banyak kesamaannya. Jadi, syetan tetap tidak kehilangan cara. Baik yang belum ngaji atau yang udah ngaji, yang namanya fitrah laki-laki tetap saja cenderung tertarik kepada wanita.

Makanya, sukanya pun terhadap yang sesuai dengan dirinya. Benar-benar harus dicamkan bagi wanita bahwa kita jangan sampai menjadi cobaan bagi laki-laki. Jangan sampai melunturkan keimanan dan semangat perjuangan mereka dalam berislam dengan benar. Saya tidak bisa menceritakan semuanya di sini, aib-aib atau kejadian memalukan yang menimpa label aktivis. Kalau udah hubungannya dengan hal seperti ini (hubungan ikhwan-akhwat) harus benar-benar hati-hati. Kalau mau tau lebih lanjut baca saja tafsir Fi Zhilaalil Quran surah An-Nuur yang sampai segitunya??? Ternyata! (ga usah dijelasin di sini ya..). Isinya berkisar kelemahan ikhwan intinya.

Secara teori (dan memang benar) bahwa syahwat kaum lelaki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita apalagi bagi mereka yang sedang memasuki usia puber. Jadi, setelah saya banyak membaca banyak buku yang berkaitan dengan hal ini, kaum lelaki terkadang sangat sulit untuk menahan nafsu seksualnya ketika sudah memasuki usia baligh apalagi jika dipicu dengan tayangan-tayangan atau gambar yang merangsang. Banyak di antara mereka yang pada akhirnya melakukan onani sebagai jalan keluarnya.

Rasulullah juga mewanti-wanti para pemuda agar segera menikah jika sudah mampu. Jangan terlalu banyak mencari alasan untuk menunda pernikahan. Lagipula yang wajib dibiayai oleh sang calon suami hanya mahar perkawinan saja, mengenai biaya resepsi pernikahan masih bisa bantuan orangtua (tapi, banyak yang gengsi) juga. Jadi, kenapa harus disegerakan?

Tak lain jawabannya adalah untuk lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluan. Berbeda dengan lelaki yang belum menikah yang masih sulit untuk menjaga pandangan, kalau lelaki yang sudah menikah itu tidak ada keinginan lagi untuk mengumbar pandangan karena sudah tercukupi kebutuhannya di rumah (ada isteri yang mendampingi). Dapat disimupulkan tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk menganjurkan:
1. Segera menikah bagi yang sudah mampu, selain untuk lebih menjaga pandangan, juga untuk lebih cepat lagi dalam memperbanyak keturunan muslim. Supaya umat Muhammad (tentunya yang berkualitas) semakin banyak. Pendidikan anak bagi orang yang sudah tertarbiyah juga cukup penting untuk kaderisasi dakwah karena dakwah ini selalu membutuhkan kader yang lebih banyak lagi untuk menggantikan kader masa kini.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” An-Nuur:32

2. Bagi wanita muslimah, azamkan dalam diri, bahwa kita jangan sampai meniru perilaku Zulaikha saat merayu Nabi Yusuf dalam setiap berperilaku dan bertindak. Dari mulai
Berbicara:

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

Berjalan:

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Al-Qashash: 25
Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. An-Nuur: 31

Berpakaian:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al-Ahzab:59

Lagu-lagu yang menyentuh…

Lagi enak banget dengerin ini……..
====================================================================
Wahai Tuhan
Jauh sudah lelah kaki yang melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinar-Mu

Wahai Tuhan
Aku lemah, hina berlumur noda
Hapuskanlah…
Terangilah…
Jiwa di hitam jalanku

Ampunkanlah aku…
Trimalah taubatku….
Sesungguhnya Engkau Sang Maha Pengampun dosa

Ya Rabbi izinkanlah aku kembali pada-Mu
Meski mungkin tak kan sempurna aku sebagai hamba-Mu

Ampunkanlah aku…
Trimalah taubatku….
Sesungguhnya Engkau Sang Maha Pengampun dosa
Berikanlah aku…
Kesempatan waktu….
Aku ingin kembali…
Kembali…

Dan meski tak layak
Sujud pada-Mu
Dan sungguh tak layak
Aku….

Ampunkanlah aku…
Trimalah taubatku….
Sesungguhnya Engkau Sang Maha Pengampun dosa
Berikanlah aku…
Kesempatan waktu….
Aku ingin kembali…
Kembali kepada-Mu…

Ya Allah …
Hanya pada-Mu ku memohon
Hanya pada-Mu ku bergantung
Tuhan kami berikanlah rahmat-Mu

Ya Allah…
Hanya pada-Mu ku menyembah
Hanya pada-Mu ku kembali
Tuhan kami jauhkanlah murka-Mu

Tuhan yang hidup dan kekal
Bimbinglah kami selalu di jalan-Mu

Tuhan
Yang Maha Segalanya
Jadikan kami pandai bersyukur pada-Mu
Tuhan…

Kau Maha Pengampun
Kau Maha Penyayang
Segala puji bagi-Mu Allah…

Tuhan
Maha Pengasih
Dekatkanlah diriku pada-Mu
Kurindukan kasih sayang-Mu
Kudambakan cinta dari-Mu

Tuhan…
Maha Pemurah
Bimbinglah kami menuju surga
Jauhkanlah kami dari siksa neraka
Yang slalu manghantui kita

Ya Allah ku mohon restu-Mu
Ku bersyukur atas nikmat-Mu
Ku bersimpuh pada-Mu
Tanamkan rahmat-Mu
Ya Allah…

Tuhan
Yang maha Agung
Bersujudlah slalu pada-Nya
Ku memohon ampunan dari-Mu
Hanya kepada Allah semata…

Ingatlah slalu…
Pada yang menciptakan kita
Sungguh Allah Maha Mulia
Tak terbatas karunia-Nya

Ingatlah slalu…
Pada Allah Yang Mengetahui
Sungguh Allah Maha Melihat
Tiada yang luput dari pandangannya

Jadilah hamba yang takwa
Tuk dapat ridho dari-Nya
Janganlah ragu pada-Nya
Walau setitik pun

Beribadahlah seakan kita melihat-Nya
Maka yakinlah sesungguhnya Allah Melihat…

Mati itu terlalu sakit
Di dalam kubur sangatlah sempit
Papan dan tanah datang menghimpit
Binatang tanah datang menggigit

Wahai teman tegakkan sholat
Sholat itu tuk penyelamat
Cepat-cepat kita bertaubat
Agar diterima amal ibadah

Mari-mari kita bertaubat
Semasih nyawa ada di badan
Tobatlah kamu kepada Tuhan
Karena Tuhan Maha Penyayang

Ingatlah Tuhan setiap saat
Karena waktu amatlah singkat
Jangan sampai kita tersesat
Sebelum nyawa tinggalkan jasad

Berkatalah yang baik atau diam!

Berkatalah yang baik atau diam, ya kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi)

Lalu dalam hadist lain disebutkan:
“Allah memberi rahmat kepada orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapatkan keselamatan.” (HR Ibnul Mubarak)

Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, dsb.

Mengenai ghibah, ada ayat tersendiri dalam Al-Quran yang membahasnya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Al-Hujurat: 12

Lebih jauh lagi manusia hendaklah dipandang dari lahiriahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum atas bathiniyahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum manusia kecuali berdasarkan penyimpangan dan kesalahan yang tampak. Seseorang tidak boleh menyangka, mengharapkan, atau bahkan mengetahui bahwa  mereka melakukan suatu penyimpangan secara sembunyi-sembunyi lalu diselidiki untuk memastikannya. Yang boleh dilakukan atas manusia adalah menghukum mereka saat kesalahannya terjadi dan terbukti. Kita sebagai umat islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya.

Rasulullah ditanya: “Hai Rasulullah apakah ghibah itu?” Nabi saw menjawab: “Kamu menceritakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya”. Beliau ditanya lagi: “Bagaimana menurut engkau jika yang dikemukakan itu ada pada dirinya?” Nabi menjawab,”Jika yang kamu katakan itu ada pada dirinya, berarti kamu mengumpatnya. Jika tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah berdusta tentang dia” (HR Tirmidzi)

Jadi, sebaiknya kita memelihara perbuatan kita, dan jangan menghambur-hamburkan perkataan yang sekiranya dapat membahayakan kita. Umumnya manusia yang banyak omong selalu berbuat salah dan dosa. Karena itu, mukmin yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah wajib mengerti bahwa perkataan itu termasuk amalannya yang kelak akan dihisab: amalan baik maupun buruk. Karena pena Ilahi tidak mengalpakan satupun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” Qaaf: 16-18

Karena itu, katakanlah yang baik agar kita mendapatkan keberuntungan, dan diamlah dari keburukan supaya kita selamat.

Let’s back to Quran…

Menjadi manusia memang sulit, menjadi manusia banyak beban, banyak amanah, banyak cobaan, banyak hal yang menjadi beban pikiran,

Menjadi manusia memang sulit, apalagi menjadi manusia yang taat

Menjadi manusia yang taat memang sulit, apalagi menjadi manusia yang istiqomah

Menjadi manusia yang taat dan istiqomah memang sulit, apalagi menjadi manusia yang taat dan istiqomah sampai akhir hayat

Menjadi manusia yang taat dan istiqomah sampai akhir hayat memang sulit, apalagi menjadi manusia yang taat dan istiqomah sampai akhir hayat lalu wafat sebagai hamba yang mulia….

Dalam menghadapi kehidupan, kita sering bimbang, kita sering merasa lelah, kita juga tak berdaya..

Kita sering bertanya: KENAPA AKU DIUJI?

Jawabannya ada di Quran:

Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang yg dusta.”

-Surah Al-Ankabut ayat 2-3

____________________________________________________________________________________________

–> Makanya baca Quran yuk…

Kita juga sering bertanya: KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YG AKU
IDAM-IDAMKAN?

Quran menjawab:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Surah Al-Baqarah ayat 216

_______________________________________________________________________________________________

Kita bertanya lagi: KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

Quran menjawab lagi:

Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” - Surah Al-Baqarah ayat 286

–> Baca Qurannya juga sama terjemahannya yah..

________________________________________________________________________________________________

Kita bertanya lagi: KENAPA SERING BANGET FRUSTASI?

Quran menjawab:

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” - Surah Al-Imran ayat 139

–> Baca Qurannya tiap hari ya..

_____________________________________________________________________________________________

Lagi-lagi kita bertanya: MASALAH INI SANGAT SULIT, BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?

Lagi-lagi Quran menjawab:

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan).”

–> Kalau bisa hafal Quran juga! kaya anak yang keren ini nih…

_______________________________________________________________________________________________

Eh, kita masih banyak bertanya: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

Quran masih punya jawaban:

Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.”
- Surah At-Taubah ayat 129

________________________________________________________________________________________________

Lalu, kita berkata: AKU TAK TAHAN DENGAN SEMUA INI……………!

Quran menjawab:

“… ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”
- Surah Yusuf ayat 12

Jadi, mari kita mulai biasakan dirikita dengan:

1. Membaca Quran dengan rutin

2. Membaca terjemahan Quran secara khusyu’

3. Menghafal Al-Quran

4. Dan mengamalkan Al-Quran

5. Lalu….mendawkahkan Al-Quran

Akhirnya kita bisa jadi insan pecinta Quran !

Wallaahu ‘alam bish showwab

I will be back to there…

Akhirnya saya hampir memutuskan untuk kembali “bertaubat” ke yayasan ibu harapan. Hampir setengah tahun lebih saya meninggalkannya karena ga “kuat” (baca: capek). Memang programnya sangat banyak.

  • Dua kalii setor selama seminggu
  • Dua kali belajar bahasa ‘arab dalam seminggu
  • kajian tafsir

Sebenarnya sangat bagus untuk menambah tsaqofah islamiyah dan pemahaman harokiyah dakwah karena di sana sering kali kalau malam2 ada ikhwan-ikhwan kepanduan mengadakan kajian, mabit, merancang strategi dakwah. Kerasa banget gerakannya, jadi selalu terpicu untuk semangat berdakwah.

Dan, saya akui selama beberapa bulan di luar yayasan ini terjadi penurunan drastis dalam diri saya. Baik dari yaumiyah, hafalan, ilmu, jadi sedih :(

Akhirnya karena sobatku tak henti2nya memaksa untuk kembali ke yayasan, saya ingin kembali ke yayasan bersama Ibu Yoyoh Yusroh, Mba Indih, Mba May (yang orang Serang juga) seorang alhafidzoh dari serang, dan anak2 yatim, anak2 kecil yang suka maen layangan kalau sore, anak2 yang sempat saya ajari bahasa Inggris.

Kangen banget sama semuanya. Insya Allah I will be back !

Dan berjanji akan lebih sungguh-sungguh lagi dalam menuntut ilmu di sana.

~ biasanya malas curhat di blog, tapi yang ini boleh deh

Pohon apa yang kau tanam?

Pohon apa yang kau tanam?

Jika kita mengibaratkan tahun demi tahun yang kita lewati sebaga sebuah pohon

Bulan demi bulannya sebagai dahan pada pohon tersebut

Hari harinya sebagai ranting-ranting yang mengisi dahan dahan tersebut

Sedangkan buah yang dihasilkan adalah setiap amal yang kita lakukan pada setiap desahan nafas kita. Baik itu amalan baik atau amalan buruk.

Amalan yang baik akan menghasilkan buah yang manis dan segar, yang enak untuk dinikmati pemiliknya

Amalan yang buruk akan menghasilkan buah yang pahit dan kecut rasanya sehingga tidak enak dan tidak mungkin untuk dimakan.

Buah-buahan ini akan dipanen nanti..

Nanti ketika kita beralih ke alam yang lain yaitu alam akhirat

Saat itulah kita akan menikmati jerih payah kita dalam menanam dan merawat pohon kita, ada yang panen buahnya sangat banyak dan manis-manis,

Tapi, adapula yang merugi karena tidak menghasilkan apa-apa dari pohon yang ditanam

Sekarang kita hanya tinggal menghitung waktu berapa lama lagi kita memiliki waktu untuk memupuk pohon tersebut, memberinya air dan berbagai macam unsur hara sehingga dapat tumbuh dengan baik dan subur.

Pemeliharannya pun harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan serta tanpa henti. Jadi ibaratnya dalam melakukan amal sholeh, harus dilakoni dengan konsisten, istiqomah, serta selalu terjadi peningkatan.

Sehingga tahun demi tahun yang kita lewati kita mendapatkan diri kita adalah pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Lebih bijak dalam memandang kehidupan, lebih taat kepada Allah, penyayang terhadap sesama, sabar dalam menghadapi ujian, dan maqam2 lainnya yang belum bisa kita capai hendaklah kita targetkan untuk bisa kita capai di kemudian hari sehingga kita berhak untuk dikategorikan sebagai orang yang beruntung yaitu orang yang hari2nya selalu lebih baik dari hari kemarin.

Wallaahu’alam bishshowwab

Pewaris surga Versi(1)

Ada lagu opick yang nadanya ceria tapi syarat makna.

Mereka adalah pewaris syurga, manusia yang di sayangi Allah

Alangkah indah bila hati mengenalnya

Tanda-tanda ada tujuh di hidupnya….

Lagu ini sebenarnya merupakan terjemahan dari Quran surah Al-Mu’minuun: 1-13 yang kandungannya menyatakan siapa sajakah orang-orang yang beruntung?

Ayat pertama: (dibahas per ayat)

1. Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman

Dari ayat pertama saja kita semua sudah harus banyak berintrosperksi diri tentang siapakah sebenarnya orang-orang yang beruntung itu?

Ya yang beruntung itu adalah orang-orang yang beriman. Namun, apakah kita merupakan orang yang benar-benar beriman?

Jika kita mengecek satu per satu dari rukun iman, apakah kita sudah mengimplementasikan semuanya secara hati, lisan, dan perbuatan? Mungkin secara hati dan lisan sudah, tapi belum diamalkan dalam perbuatan.

1. Iman kepada Allah

Inilah rukun iman yang pertama yang menyatakan bahwa zat yang pertama kali harus kita imani hanyalah Allah SWT. Zat yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Memberi Rezeki, dan Maha-Maha lainnya. Saudaraku kembali pertanyaannya diulang: Apakah kita benar-benar sudah beriman?

Ketika kita masih percaya pada ramalan bintang, berarti kita belum beriman secara total kepada Allah, ketika kita masih saja meyakini bahwa tanpa seseorang (bos kerja kita), rezeki kita tidak akan lancar, berarti iman kita harus dipertanyakan. Apakah kita benar-benar sudah beriman?

2. Iman kepada malaikat

Malaikat yang wajib diyakini ada 10 termasuk di dalamnya malaikat rakib dan atid yang mencatat perbuatan baik dan buruk kita. Kita akan dikatakan beriman kepada malaikat jika kita meyakini secara sadar penuh bahwa sepanjang aktivitas kita sehari-hari kedua malaikat ini selalu ada di samping kanan dan kiri kita, mencatat segala apapun yang kita lakukan! Bahkan tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Termasuk bisikan hati kita. OK, kita sudah terbebas dari segala macam perbuatan tercela, tapi bagaimana dengan hati kita yang masih saja menyimpan sifat dengki, takabur dan riya terhadap orang lain? Bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT?

3. Iman kepada kitab Allah

Kita juga harus beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya termasuk Al-Quran yang berfungsi sebagai pedoman hidup kita. Ketika kita akan melakukan perjalanan ke suatu tempat yang belum dikenal, tentu kita membutuhkan peta untuk menunjukkan kita mana jalan yang benar. Sama seperti halnya kita hidup di dunia ini yang hakikatnya sedang mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang masih sangat panjang, kita butuh petunjuk hidup itu. Jika tidak kita akan seperti orang yang berjalan di kegelapan malam tanpa ada penerangan sedikit pun, lalu kita berjalan tak tentu arah sambil meraba-raba dan pada akhirnya kita akan tersesat. Di dalam Al-Quran begitu banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang hamba Allah, dan larangan-larangan yang selayaknya ditinggalkan. Banyak ayat Al-Quran yang jika kita mengerti akan kedalaman maknanya, bahwa hidup ini hanya sementara.

Telah berlaku sunnah Allah bahwa setiap umat mempunyai ajalnya masing-masing. Suatu saat semuanya akan kembali kepada Allah. Suatu saat kita akan berhadapan langsung dengan Allah yang telah menciptakan kita, memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati… Allah akan menanyakan semua nikmat yang telah diberikan-Nya digunakan untuk apa?

Betapa rugi orang yang semasa hidupnya tidak pernah mengenal Al-Quran, tidak pernah merasakan bahwa sebenarnya hanya Al-Quran inilah yang kita butuhkan dalam hidup. Kita tidak membutuhkan hal-hal lain kenikmatan dunia dan segala isinya, kita lebih membutuhkan Quran untuk dibaca, dipahami, diamalkan sehingga bisa menjadi penuntun kita untuk menjadi hamba yang taat.

4. Iman kepada Rasulullah

Sebagai mu’min, kita juga wajib beriman kepada Rasulullah, tauladan hidup sejati sepanjang zaman. Pembahasan tentang ini akan dibahas tersendiri karena jika kita mengkaji hidup Rasulullah seperti mengkaji sebuah warisan sejarah termahal di dunia yang penuh akan makna yang mendalam.

5. Iman kepada hari kiamat

Kejadian hari kiamat banyak diceritakan dalam Al-Quran khususnya juz 30 dimana di situ digambarkan huru hara terjadinya hari kiamat. Hari kiamat yang membuat para ibu meninggalkan anak susuannya, para wanita yang hamil menggugurkan kandungannya, anak yang masih muda belia pun rambutnya menjadi beruban. Bencana yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah manusia karena matahari akan digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, lautan meluap, sungguh maha dahsyat sekali kejadian itu. Hari yang memutuskan segala kesempatan beramal di dunia, tertutupnya pintu taubat, yang ada hanya pertanggungjawaban dan perhitungan amal di dunia. Bagi manusia yang amalnya sedikit, niscaya akan merasakan penyesalan yang mendalam sambil menggigit jari dan berharap bisa kembali ke dunia. Tapi, sungguh jika keputusan sudah dibuat, tidak akan ada perubahan pada ketentuan Allah. Tak ada yang bisa dilakukan bagi manusia yang penuh dosa selain mengharapkan syafa’at dari Rasulullah, do’a anak yang sholeh. Namun itu semua pun tidak akan menjamin. Setiap orang hanya mengharapkan amalan. Apakah ada amalan yang sedikit saja bisa menghilangkan kegelisahannya pada hari itu? Amalan baik yang bisa menjadi secercah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang mulia di sana.

6. Iman kepada Qadla dan Qadar

Kekuatan iman seorang hamba juga tidak hanya diukur dari kelima hal yang telah dipaparkan di atas. Seorang mu’min sejati juga yakin akan setiap keputusan Allah yang ditetapkan untuknya. Ketika mendapatkan kebahagiaan dia akan bersyukur, ketika mendapatkan musibah, dia akan bersabar. Hanya dua sikap itu saja yang diperlukan dalam menghadapi segala macam kejadian dalam kehidupan. Satu yang harus dilakukan oleh kita semua bahwa kita harus ridho terhadap takdir Allah yang terjadi pada diri kita dalam setiap aspek kehidupan. Kita selalu senang dan dengan ikhlas menerima segala pemberian dari Allah SWT.

Ketika kita ditakdirkan memiliki kekayaan dunia, kita harus banyak-banyak bersyukur atas anugerah itu. Ketika kita memang ditakdirkan memiliki sedikit perbendaharaan dunia, kita terima dengan ikhlas semuanya. Ketika kita dikaruniai keluarga yang menurut kita jauh dari apa yang kita harapkan, kita harus tetap bersyukur dan itu menjadi ladang amal bagi kita. Ketika Allah memberikan suatu penyakit kepada kita, kita harus tetap yakin dan berpegang kepada Allah serta memilki sikap keyakinan yang kuat bahwa apapun yang Allah berikan kepada kita, itu adalah hak-Nya karena dia yang memiliki jiwa kita, ruh kita, semua anggota tubuh kita. Kita tak memiliki secuil kontribusi apapun dalam penciptaan diri kita dan adanya diri kita di bumi ini. Semuanya adalah milki Allah Bahkan ketika kita tak memiliki apapun di rumah kita, mungkin hanya sedikit air dan pakaian yang satu-satunya, kita tetap bisa bersyukur bahwa kita setidaknya kita memiliki harapan bahwa kita masih memiliki kekayaan yang tidak bisa dibandingkan dengan seluruh isi dunia ini. Yaitu kita yakin bahwa kita memiliki Allah, Tuhan yang satu dan selalu berada di samping kita. Akan sangat beruntung orang yang dekat dengan Allah. Walaupun kita orang terkaya di dunia, jika kita kita tidak mengenal Allah dan jauh dari Allah semuanya itu tidak akan ada artinya.

subhaanallah…mereka (the Doctors from Qatar)

Saat kamis kemarin saya mendapatkan kesempatan berharga untuk bisa bertemu dengan ikhwah-ikhwah-saudara seperjuangan dari negara lain. Semenjak sore saya dan beberapa kawan dari UI pergi ke Yayasan Ibu Harapan, kami sesaat menunggu dan pertemuan itu berlangsung setelah maghrib.

Hal pertama yang kami lakukan adalah berkenalan. Kedua Doktor yang kami temui praktis menggunakan bahasa ’arab dalam berkomunikasi, saya hanya bisa mendengarkan dengan manis, sedikit-sedikit mengerti, untungnya ada penerjemah. Satu per satu dari kami, memperkenalkan diri…kemudian dilanjutkan dengan sharing tentang pengalaman hidup mereka, kehidupan mereka, hal yang sedang mereka jalani, perjalanan dakwah mereka, dll.

Nama beliau Dr. Khalid, berasal dari negara Qatar merupakan salah satu pendiri persatuan ulama sedunia bersama Dr. Yusuf Qardlawi. Beliau juga aktif berdakwah di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Beliau mendirikan yayasan ’Atiyah Asy-sya’iriah di Matraman, Jakarta. Beliau merupakan doktor di bidang tafsir dan hadist, menguasai 3 macam qiro’at, dan tentunya seorang hafidz (orang yang sudah hafal 30 juz Al-Quran)! Fantastisnya lagi, semenjak usia beliau 11 tahun! Beliau juga memiliki anak-anak yang selain sukses di bidangnya, juga seorang hafidz dan hafidzah. Anak pertamanya meraih gelar cum laude di kampusnya. Anak kedua, mendapatkan peringkat pertama terus sehingga sekolah tanpa mengeluarkan biaya alias digratiskan. Anak-anaknya yang lain ahli di bidang syari’ah, dan ada juga yang masih bersekolah. Subhaanallah… kami semua terkagum-kagum ketika beliau bercerita.

Doktor yang kedua, (maaf sekali saya tidak terlalu ingat namanya) juga tak kalah hebat dengan dokter yang pertama. Beliau merupakan seorang insinyur. Beliau memilki 8 anak yang kesemuanya adalah orang-orang sukses. Ada yang sudah jadi insinyur, dokter gigi,ahli syari’ah,dan lain-lain. Betapa mereka adalah asset bagi umat!

Mereka berdua akan segera pergi ke Jawa Timur untuk melihat dan mengontrol program yang sudah dijalankan di sana, kemudian dilanjutkan ke Bengkulu untuk mendirikan pemukiman bagi warga yang terkena musibah gempa, lalu pergi ke Medan. Padahal usia beliau sudah cukup tua, tapi mobilitasnya masih cukup tinggi. Inilah yang sangat perlu untuk dicontoh.

Saya mengambil banyaaak sekali hikmah dan pelajaran dari mereka dan peristiwa ini:

  1. Perjuangan di jalan islam harus selalu dilakukan kapanpun, dimanapun, pada kondisi apapun, saat usia berapapun. Orang yang sudah merasakan hal ini semenjak muda harus tetap istiqomah agar bisa berlanjut sampai menutup usia. Banyak saya temui orang yang semangatnya hanya bertahan beberapa tahun saja, semangatnya hilang setelah mendapatkan nikmat dunia, semangat hilang karena harta, anak-anak atau wanita. Jika demikian halnya maka orang tersebut benar-benar menderita kerugian yang nyata.
  2. Kita semua harus saling membantu dalam jalan ini. Kita dengan keahlian yang kita miliki di lahan yang kita tinggali. Bahwa proyek ini sangat besar, proyek Allah yang dijalankan oleh tangan orang-orang beriman mencakup seluruh dunia, seluruh aspek kehidupan, seluruh jenis manusia. Saya ingat juga betapa militannya Ustadz Abdullah Mu’adz (ya iyalah) saat menceritakan perjuangannya dalam ’menggarap’ wilayah Kalimantan Timur saat mau pilkada kemarin. Dan kita masih sangat butuh banyak orang untuk ditempatkan di daerah yang belum terjamah lainnya.
  3. Ada satu hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa seorang muslim yang tidak memikirkan kepentingan muslim lainnya belumlah dianggap sebagai orang muslim. Seyogyanya umat islam adalah bersaudara. Kita semua bersaudara tanpa memandang latar belakang pendidikan, keluarga, budaya,suku, dll. Perbedaan itu adalah rahmat. Jika nilai-nilai persaudaaran sudah tertanam dengan baik maka kisahnya akan seperti para sahabat pada zaman Umar bin Khattab yaitu ketika ada seseorang yang diberikan infaq, maka ia pun membaginya dengan saudaranya yang lain, lalu saudaranya yang lain pun membaginya dengan saudara-saudaranya yang lain lagi, sampai Umar bin Khattab pun tertawa dan yakin bahwa nilai ukhuwwah masih tertanam di hati para sahabat walaupun Rasulullah telah wafat. Maka dari itu kita wajib memikirkan kepentingan umat muslim. Tidak hidup untuk diri sendiri, sukses dan kaya di rumah yang mewah bersama keluarga, tapi kesuksesan kita harus bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita dalam bentuk apapun.